TRANS SULTENG - PALU,Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat terjadi 323 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sulteng sepanjang 2020. 


Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Hak Khusus Anak DP3A Sulteng, Sukarti, menjelaskan, dari jumlah kasus tersebut, Kabupaten Buol menjadi daerah tertinggi dengan jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 68 kasus.


“Dari sejumlah wilayah di Sulteng, Kabupaten Buol yang tertinggi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan 68 kasus kekerasan,” ujar Sukarti kepada Trans Sulteng, Rabu (20/1/2021). 


Selanjutnya, Kabupaten Poso menjadi daerah kedua dengan jumlah kasus sebanyak 58 kasus. Kemudian disusul dengan beberapa daerah lainnya, diantaranya Kabupaten Sigi sebanyak 53 kasus, Kota Palu sebanyak 41 kasus, Kabupaten Banggai Kepulauan sebanyak 20 kasus dan Kabupaten Donggala sebanyak 19 kasus. 


Untuk Kabupaten Morowali sebanyak 14 kasus. Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Morowali Utara masing-masing memiliki 13 kasus kekerasan. Kabupaten Tojo Una-una sebanyak 9 kasus. Kabupaten Banggai dan Kabupaten Toli-toli sama-sama sebanyak 7 kasus dan terakhir Kabupaten Banggai Laut dengan 1 kasus kekerasan. 


Selain itu, Sukarti juga menambahkan bahwa jumlah kasus berdasarkan tempat kejadian sepanjang 2020 terbanyak yakni kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan jumlah 205 kasus. 


“Jumlah korbannya ada 210 korban,” jelasnya.


Sementara untuk jenis kekerasan dialami korban terbanyak yakni kekerasan seksual sebanyak 141 kekerasan. Disusul dengan 131 kasus kekerasan fisik, 129 kasus kekerasan psikis, 1 korban eksploitasi, 1 korban trafficking, 23 korban penelantaran dan jenis kekerasan lainnya ada 19 korban. KDK

FOTO: Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Hak Khusus Anak DP3A Sulteng, Sukarti.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama