TRANS SULTENG - MOROWALI,Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Sulawesi Tengah, menggelar kegiatan Advokasi Kelembagaan Desa Pasar Aman Dari Bahan Berbahaya, Dan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) di Aula Kantor Bupati Morowali, pada hari Kamis (11/02/2021).



   Dalam kegiatan tersebut, dihadiri Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Morowali, Mohammad Jafar Hamid yang mewakili Bupati karena menghadiri Musrenbang di Kecamatan Bungku Tengah.



   Selain itu, hadir pula Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Morowali, Ashar Ma'ruf, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Zainal, serta perwakilan Bappeda yang semuanya memaparkan laporannya masing-masing.



   Sementara, dari Balai POM Provinsi Sulawesi Tengah sendiri, selaku salah satu pemateri adalah Kepala Balai POM Palu, Fauzi Ferdiansyah, sekaligus memimpin jalannya zoom meeting bersama Koordinator Kasubdit, Dra Dyah Sulistyorini mewakili Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan.



   Ada salah satu poin penting dalam penjelasan di pertemuan itu, adalah pengawasan terhadap Pangan Jajanan Anak usia Sekolah (PJAS), akan tetapi karena saat ini masih dalam masa pandemi covid-19, dimana sekolah tutup, maka pengawasan perlu dilakukan terhadap jajanan anak usia sekolah yang ada di luar sekolah agar anak usia sekolah terhindar dari bahan campuran berbahaya pada makanan olahan.



   Manfaat program intervensi keamanan PJAS yang pertama adalah Manfaat Keamanan, untuk mengurangi/menghilangkan kasus KLB keracunan akibat pangan.

Yang kedua, Manfaat Kesehatan/Gizi, yaitu asupan gizi yang baik menunjang konsentrasi belajar yang dapat meningkatkan prestasi belajar, dan yang ketiga adalah manfaat sosial/ekonomi, dimana masyarakat merasa percaya terhadap mutu dan keamanan PJAS di sekolah.



   Pada kesempatan itu, Dyah Sulityorini menyampaikan pesan kepada Pemerintah Kabupaten Morowali, dalam hal ini Dinas Kesehatan untuk tetap melakukan pengawasan terhadap pangan siap saji di pasar, sekolah, dan desa-desa, serta usaha-usaha produksi pangan rumah tangga lainnya, agar tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya.



   Di sela-sela materi, dilakukan tanya jawab dan diskusi bersama pemateri dari Balai POM dan peserta yang hadir dari beberapa unsur, antara lain perwakilan OPD, perwakilan Pemerintah Desa, perwakilan Guru, dan perwakilan pedagang pasar serta pelaku usaha lainnya.



   Salah seorang peserta diskusi menyarankan agar di setiap kabupaten ditempatkan ahli dalam bidang pengawasan obat dan makanan, serta memperkuat sinergitas antara instansi terkait dengan Balai POM sehingga setiap waktu bisa tetap berkoordinasi.BAMS.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama