Nelayan Yang Tertembak Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka



TRANS SULTENG - MOROWALI,Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Bitung bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Morowali, menggelar jumpa pers terkait peristiwa tertembaknya seorang nelayan asal Desa Sainoa beberapa hari lalu.



   Jumpa pers dilaksanakan di halaman kantor DKP Morowali, Sabtu sore (06/3/2021), yang dihadiri Kepala DKP Morowali, Fajar, UPT Pangkal Bitung Sub Koordinator Pengawasan, Pengamanan, dan Pelanggaran PSDKP Wilayah Sulawesi, Bayu Suharto, serta sejumlah personil PSDKP.



   Bayu Suharto mengatakan bahwa warga yang tertembak berinisial "AI" telah ditetapkan sebagai tersangka atas tindakan Destructive Fishing (bom ikan), dan memberikan penjelasan terkait kronologis hingga terjadinya penembakan.



   "Tanggal 3 Maret 2021 lalu, saat kami melaksanakan operasi pengawasan Destructive Fishing melalui penyamaran menggunakan perahu di perairan Morowali di pesisir pantai Desa Tanjung Harapan sekitar pukul 11.26 WITA, terindikasi ada pelaku bom ikan, saat kami dekati kurang lebih jarak 100 meter, perahu nelayan tersebut terlihat sedang melakukan pengeboman dengan meletusnya bom, karena melihat petugas, perahu nelayan tersebut berusaha melarikan diri dengan kecepatan tinggi" jelas Bayu.




   Setelah pada jarak kurang lebih 10 sampai15 meter lanjut Bayu, kapal tersebut terlihat akan melakukan perlawanan dengan mengarahkan perahunya ke arah petugas sehingga personil melakukan tindakan dengan mengeluarkan tembakan peringatan ke arah atas dan ke samping perahu tersebut. "Petugas AKP HIU 05 mengejar pelaku sampai ke daratan namun tersangka melarikan diri sampai di hutan, perahu yang mereka gunakan beserta barang bukti, saat ini kami amankan dan dibawa ke pelabuhan Bungku" ungkapnya.




   Adapaun barang bukti yang berhasil ditemukan di atas perahu diduga hasil bom ikan yaitu, kompresor, selang kompresor, vins, dan juga jaring untuk mengambil ikan. "Pelaku bom ikan sesuai Undang- Undang Nomor 45 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, diancam hukuman 5 tahun penjara atau lebih" tutur Bayu.




   Sementara, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Morowali, Fajar berharap kejadian penangkapan ikan dengan cara merusak (Destructive Fishing), tidak terulang lagi, karena cara pengeboman ikan yang dilakukan dapat membahayakan pelaku itu sendiri serta ekosistem laut, begitupula dengan menggunakan racun, yang bisa berdampak kepada konsumen atau masyarakat yang mengkonsumsi ikan.



   Terpisah, Kabag Ops Polres Morowali, KOMPOL Nasruddin yang ditanyakan mengenai hasil pemeriksaan atas SOP tindakan penggunaan senjata api oleh petugas PSDKP dalam peristiwa itu, hingga saat ini belum memberikan jawaban.BAMS.

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1
Post ADS 1