Menggali Kreatifitas Siswa Di Masa Pandemi Dengan Pembelajaran Seni Tari Memanfaatkan Teknologi Dan Medsos


Trans Sulteng.com 
Pembelajaran di saat pandemi Covid-19 mau tidak mau akan mengandalkan teknologi khususnya internet untuk bisa berjalan dengan baik. Karena itu, proses belajar mengajar sudah tidak terpusat pada guru, karena siswa dituntut untuk aktif mencari bahan dan informasi lewat internet.



   Untuk pembelajaran seni tari, sebenarnya yang dibutuhkan oleh siswa adalah pengalaman estetik dan mengapresiasi karya seni tari. Untuk itu, teknologi bisa menjadi titik penentu keberhasilan pengajaran, karena siswa mesti sebanyak mungkin mendapatkan pengalaman estetik untuk menggali kreativitasnya. Kreativitas, mengutip pendapat Csikzentmihalyi (dalam Munandar, 1995) menyatakan bahwa kreativitas sebagai produk berkaitan dengan penemuan sesuatu, juga berarti memproduksi sesuatu yang baru. Hal-hal tersebut bisa diwujudkan lewat akumulasi keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman.



   Penelitian yang dilakukan sejumlah mahasiswa pendidikan seni di Universitas Negeri Semarang menyebutkan bahwa selama pandemi ini pembelajaran tari bisa dilakukan dengan mengunduh berbagai video tari Nusantara dari media sosial YouTube dan Instagram. Nyatanya, berdasarkan penelitian tersebut, pembelajaran seni tari masih cukup mampu menarik minat siswa SMA untuk tetap dapat mengapresiasi dan memelajari tari nusantara dan seluruh keunikannya.



   Dampak lainnya, memutar video di YouTube juga mendukung para pekerja seni khususnya penari yang terdampak pandemi Covid-19 ini dengan pemasukan lewat internet. Hasilnya, para penari profesional bisa tetap berkarya dan siswa bisa terus mengapresiasi karya-karya mereka. Maka belajar menari selama pandemi masih bisa tetap dilakukan dengan aktivitas daring tanpa masalah tertentu.

Proses Belajar Seni Tari Secara Daring

Selama pandemi, pertemuan bisa dilakukan via aplikasi Zoom, maupun Google Meet. Proses belajar dimulai dengan pretest, di mana guru akan membuka dialog tentang apa itu seni tari.



   Hal yang diperlukan dari dialog awal ini adalah mengetahui sikap dan ketertarikan siswa terhadap seni tari lewat interaksi yang aktif antara guru dan siswa. Nantinya, akan terlihat apa saja yang diketahui siswa tentang menari, dan tari tradisi Nusantara yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Dalam kesempatan itu, guru juga bisa menumbuhkan kecintaan siswa pada tanah airnya sendiri lewat pengenalan budaya Nusantara yang kaya dan beragam. Selanjutnya, pembicaraan bisa dikhususkan pada ragam gerak, bahasa tubuh, gesture, tata rias, busana dan sebagainya yang biasa digunakan dalam seni tari.



   Khusus untuk pembelajaran tari di masa pandemi, sebaiknya lebih mengarah pada seni tari tunggal. Hal itu ditujukan untuk menghindari keramaian atau kerumunan ketika proses pengambilan nilai di akhir pembelajaran.

Masih via aplikasi pembelajaran daring seperti Zoom, Google Meet dan sebagainya, guru bisa menampilkan semua bahan yang ingin dipaparkannya lewat media Microsoft Power Point yang dilengkapi dengan dokumentasi berupa foto dan video, serta ilustrasi yang menarik. Dalam hal ini, teknologi bisa menjadi pendukung utama agar penyampaian materi bisa lebih menarik dan menyenangkan. 



   Selanjutnya, guru bisa memberi tampilan video beberapa seni tari tunggal dari berbagai daerah di Indonesia. Agar lebih terasa menarik, tentunya video yang ditampilkan mesti memiliki kualitas High Definition (HD) dengan resolusi yang tinggi. Video bisa didapatkan dari YouTube, Instagram, atau berbagai media sosial lainnya.

Proses berikutnya bisa kembali diskusi antara guru dan siswa terkait apa yang sudah mereka saksikan.



   Tentu saja, bila mengacu pada Peraturan Pemerintah no. 19 tahun 2005, maka guru mesti memberikan ruang kreatif dan kemandirian bagi anak. Salah satu caranya adalah, mulai pelatihan praktik gerak tari tertentu. Guru bisa menjadi role model, atau bisa juga memilih video tertentu untuk ditirukan geraknya oleh siswa.



   Mengasah Kreativitas Siswa di Bidang Tari



   Tujuan dari pembelajaran khususnya pembelajaran seni adalah untuk mengasah kreativitas siswa. Apa yang sudah dilakukan dalam proses pembelajaran sebelumnya masuk dalam kategori tahapan persiapan untuk memunculkan kreativitas. Tahapan pertama dari kreativitas adalah mengenali, mengumpulkan data dan informasi, melihat kaidah-kaidah yang ada, memelajari teknik-teknik tertentu, dan berbagai hal yang mendukung tahap persiapan kreativitas siswa.



   Sekolah, khususnya tingkat SMA, merupakan proses awal dari pemunculan kreativitas siswa. Bila dioptimalkan, bisa mencapai tahap kedua yakni tahap inkubasi. Tahap inkubasi merupakan tahap di mana semua ilmu, teknik, kaidah, informasi, data, dan semua yang sudah dikumpulkan pada tahapan pertama akan dipendapkan, lalu direnungkan. Proses perenungan ini disebut pula dengan nama kontemplasi. Hasil perenungan yang dalam dan proses berpikir tersebut akan menghasilkan gagasan yang menarik.



   Untuk anak SMA, ide-ide atau gagasan yang lahir bisa berupa paduan dengan ide lain namun hadir sebagai ide yang baru, atau paduan dari sifat-sifat dua ide yang menjadikannya ide baru, atau mungkin menghasilkan gambaran ide yang baru. Hal tersebut bisa berhasil bila didukung dengan imajinasi, kreativitas, dan fantasi yang baik dari siswa. Hal ini bisa didorong oleh guru seni dengan memperbanyak pengalaman estetis, dan pengalaman artistik siswa.



   Pengalaman estetis didapatkan dari menonton, mengapresiasi, mendiskusikan, dan memikirkan karya seni tari tertentu. Sedangkan pengalaman artistik didapatkan dari proses latihan, meniru gerak, membuat satu karya tari yang baru, dan sebagainya. Dua hal tersebut tetap bisa dioptimalkan dengan memanfaatkan teknologi selama masa pandemi ini. 

Teknologi dan media sosial juga bisa dimanfaatkan sebagai output dari proses pengajaran seni tari. Siswa bisa diminta untuk mengunggah hasil karya tari tunggal yang mereka peragakan di media sosial masing-masing.



  Durasi satu hingga dua menit masih dirasa cukup untuk dihadirkan pada publik, sehingga siswa juga mendapatkan pengalaman lain, yakni keti ka karyanya diapresiasi oleh orang lain. Hal tersebut bisa meningkatkan kepercayaan diri dari siswa untuk berkarya, yang pada akhirnya bisa melahirkan seniman tari, koreografer, dan performer terbaik Indonesia di masa depan.

Penulis : SHINTA RELAWATI, S.Pd

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1
Post ADS 1