Bripka Andi Sarianto Melakukan Komunikasi Yang Sehat Kepada Salah Satu Orang Tua Kelompok Matiro Deceng (Sahri) Seperti Bapak Dan Anak.


Trans Sulteng,Morut - Baru saja terjadi komunikasi antara bapak dan anak yang dilakukan anggota Polisi Polres Morut, Bripka Andi Sarianto di pos Securiti yang ada di wilayah jalan tani Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, pada Sabtu 30 Okrober 2021.

Melalui kesempatan itu Bripka Andi Sarianto bertanya mengenai sisa buah sawit yang di ambil dari lahan yang di klaim oleh PT ANA, namun dalam kepemilikan hak milik Haji Awak, yang saat ini sudah menjadi persoalan baru karena buah tersebut tidak di beri ruang dari pihak securiti, namun Bripka Andi Sarianto akan mencarikan solusi terbaik, yang mana tidak merugikan kedua belah pihak, perusahaan PT. ANA, atau Bpk Sahri yang memegang surat kuasa dari Haji Awak,"ucap Sahri.

Lanjut, kepada awak media ini, saya sudah kordinasi dengan salah satu securiti yang mana sisa panen dari perusahaan saya minta untuk panen, karena kami tidak mau bergesekan dengan pengamanan yang ada di perusahaan, kami memberi ruang kepada perusahaan PT. ANA untuk melakukan aktifitas nah sekarang kami mengambil sisa dari perusahaan kenapa di persulit, dan bahkan beberapa hari lalu, waktu pertemuan di bersama Gubernur di Palu, pihak perusahaan kan mengakui dan akan menyelesaikan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari, berarti dengan sendirinya perusahaan mengakui kalau masi banyak pemilik hak atas tanah di lokasi sawit yang belum terselesaikan,"ungkap Sahri.


Kepada awak media ini Bripka Andi Sarianto mengungkapkan, yang mana dirinya cuma melakukan mediasi agar pihak-pihak terkait, perusahaan PT.ANA dan Bpk Sahari tidak ada yang dirugan namun dapat diselesaikan dengan jalan kekeluargan, makanya beliau mengajak berdiskusi bpk Sahri seperti seorang bapak terhadap anaknya agar dapat mencairkan suasana dan sebagai simbol sopan santun masi mengalir dalam jiwa korsnya,"jelas Bripka Andi Sarianto.

Ditempat yang berbeda keluarga atau anak dari bapak Sahri sebut saja Sainal mejelaskan, saya mau di atur tapi jangan cuma perusahaan yang makan kami pemilik hak atas tanah di kasi lapar, bahkan kami memberi ruang untuk perusahaan akan tetapi kami meminta sedikit kebijakan,dan disini perlu saya tegaskan kami bukan teroris atau pun penghiyanat bangsa yang sedikit-sedikit mau di adukan dengan TNI - Polri, kami anak bangsa yang taat dan patuh dengan aturan yang berlaku di bingkai NKRI, yang seharusnya di pertanyakan perusahaan ada tidak Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) yang sudah berprofuksi menjalani kurang lebih 10 (sepuluh) tahun tapi belum ada pemasukan ke Daerah atau PAD Morowali Utara, kami Indonesia NKRI Harga Mati,"tegas Sainal dengan rasa patrionesme.



Lp Roby A Nasir

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1
Post ADS 1