DP2KB SUDAH BENTUK PROGRAM PENANGANAN ANGKA STUNTING DI KABUPATEN DONGGALA


TransSulteng -Donggala-Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Donggala menyebutkan bahwa di Kabupaten Donggala sekarang ini sudah ada program Penanganan Penanggulangan Penurunan Angka Stunting.

“Jadi saya sudah bentuk pendamping keluarga di Kabupaten Donggala sebanyak 231 orang, nah pendamping keluarga ini tiap-tiap log stunting ini ada tiga orang terdiri dari bidang sebagai penyuluh Keluarga Berencana (KB) dan kader-kader penggerak PKK serta kader yang dapat membantu memberikan pembinaan guna menciptakan ketahanan keluarga,” kata Kepala Dinas (Kadis) P2KB, Drs. H. La Samudia Dalili, M. Si, diruang kerjanya Selasa (15/03/2022).

Dalam hal tersebut, mereka ini mendampingi keluarga yang pranikah, yang paska persalinan dengan keluarga yang sementara hamil dan pranikah. Untuk melihat sistem proses penanganan stunting ini beda, kalau kami di DP2KB menangani keluarganya yaitu orang tuanya bukan anaknya.

Dijelaskannya bahwa stunting ini adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak.

“Stunting ini dikarenakan karena pola asu yang salah dalam keluarga. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Biasanya stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun, ada namanya seribu hari pertama kehidupan, jadi seribu hari pertama kehidupan itu, sejak dia dikandung anak ini sampai umur 2 tahun dia harus diberikan gizi yang bagus, diasuh dengan bagus, sehingga tumbuh kembang anak itu dia bagus,” terangnya.

Adapun penangganan dari pada kesehatan itu ketika dia sudah stunting itu anak, tapi kalau penangganan dari Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana ini dia hanya mendampingi keluarganya seperti memberikan penyembuhan, memberikan makanan gizi, kemudian memberikan alat semacam permainan edukatif untuk anak umur 0 sampai 2 tahun, namanya alat BKB (Bina Keluarga Balita), disitu ada permainannya, ada ransangan-ransangan tumbuh kembang anak.

“Melatih kecerdasan anak itu bukan hanya dengan pemberian vitamin, tetapi dia  pemberian rangsangan-rangsangan yang berkaitan dengan edukatif, seperti begitu yang kita lakukan, jadi kita mendampingi keluarganya bukan anak yang kita dampingi tetapi keluarga yang punya anak balita, kemudian keluarga pranikah semacam remaja, keluarga yang hamil, keluarga yang paska persalinan, itu yang kita dampingi, sekaligus menedukasi dan mendampingi,” ujarnya.

“Kami di Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana hanya secara administrasi saja, kalau secara tehnis di kesehatan, termasuk bantuan ada di kesehatan, kalau kami disini khusus data saja, tapi data itupun sebenarnya kita ambil dari kesehatan, kita tidak bisa menentukan kalau dia stunting ada atau tidak, karena untuk melakukan pemeriksaan semua dari kesehatan seperti periksa Hemoglobin (Hb) dalam darah, mengukur tinggi badan serta berat badan, apakah dia gizi buruk atau tidak, nah itu semua dari kesehatan,” imbuhnya.

H. La Samudia menambahkan, sekarang kita sementara rapat kerja daerah di Provinsi dalam rangka penanggulangan angka stunting, kemudian dibulan mei akan diturungkan KKN Tematik dari Untad tentang penurunan angka stunting di Kabupaten Donggala.

“Hanya donggala yang dapat, karena kita bekerjasama dengan Untad, dia turungkan KKN nya itu (Mahasiswa) untuk mendamping keluarga stunting tersebut selama satu tahun lima angkatan, satu angkatan berjumlah 350 orang,” pungkasnya. (Syamsir) 

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1