Brigjen TNI Toto Nurwanto S.I.P M Si: Atasi Stunting Diwilayah Kabupaten Tolitoli Dibutuhkan Kerjasama Semua Pihak

 


Transsulteng - Tolitoli, Sulteng  - Dalam rangka Mewujudkan Gizi Seimbang, Prestasi Gemilang Untuk Indonesia Sehat dengan Generasi Penuh Prestasi Berprinsip diwilayah Kodim 1305/BT, Korem 132/Tdl bersama Forkopimda Kabupaten Tolitoli melaksanakan Pencegahan Stunting di Puskesmas Pembantu Jl. Saputan Raya, Keurahan Baru, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulteng, Jum'at (15 Juli 2022) Sore Pukul 15.47 Wita.

Hadir dalam kegiatan tersebut Brigjen TNI Toto Nurwanto S.I.P M Si (Danrem 132/TDL),  Kolonel Inf. Saiful Parenrengi S.Sos M.PSi (Kasilog Korem 132/TDL), Letkol CPM Jasman, S.Pd (Dandenpom XIII/2 Palu), Letkol Inf. Lawdewick B.K Tobing, S.Sos (Dandim 1305/BT), AKBP. Ridwan M. Raja Dewa. S.I.K,B. (Kapolres Kab. Tolitoli), Mayor Inf. Iko Power Sianipar (Kasdim 1305/BT), Teguh Bondan Wiratno, S. Km (Sekertaris Dinas Kesehatan Kab. Tolitoli), Ny. Ros Andini Toto Nurwanto (Ketua Persit Koorcab Rem 132 PD XIII/Merdeka), Ny. Dina Adriani P. Lawdewick Brucelee Karthnie (Ketua Persit KCK Cabang XIX Kodim 1305/BT) Beserta Pengurus Persit KCK Cabang XIX Kodim 1305/BT, Jeine Yuliana S.kep. (Kepala Puskemas Pembantu), dan Anggota Kodim 1305/BT, Tamu dan Penderita Stunting Kl. 75 Orang.

Sambutan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tolitoli yang diwakili oleh Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tolitoli Teguh Bondan Wiratno, S. Km mengatakan Berdasarkan Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

"Pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting dengan kelompok sasaran nol (0) meliputi  remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia lima puluh sembilan (59) bulan,"Kata Teguh Bondan Wiratno, S. Km

Lanjut Teguh Bondan Wiratno, S.Km menuturkan Penyebab langsung stunting adalah rendahnya asupan gizi dan status kesehatan. Penurunan stunting menitikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi, "faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktek pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan)" Katanya

Intervensi terhadap keempat faktor menurut Teguh Bondan tersebut diharapkan dapat mencegah masalah gizi, terutama stunting, gizi kurang, dan gizi buruk. Sehingga Penyebab tidak langsung masalah stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya pendapatan dan kesenjangan ekonomi, perdagangan, urbanisasi, globalisasi sistem pangan, jaminan sosial, sistem kesehatan, pembangunan pertanian, dan pemberdayaan perempuan.

Oleh karena Ia menduga penyebab stunting adalah multidimensi, maka dari itu penanganannya juga harus multi sektor.

"Stunting bisa dicegah dengan memberikan intervensi gizi spesifik oleh sektor kesehatan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan plus remaja dan intervensi gizi sensitive oleh sektor non kesehatan," Imbuhnya.

Dalam rangka pencapaian target nasional prevalensi Stunting, ditetapkan target antara yang harus dicapai sebesar 14 % (empat belas persen) pada tahun 2024 .

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia Tahun 2021 , Stunting / Stunted ( Tinggi Badan Menurut Umur ) Kabupaten Tolitoli pada angka 29,3 % , prevalensi wasted ( BB menurut TB ) sebesar 8,9 % dan Underweight ( BB menurut umur ) sebesar 21,1 %.

Sedangkan untuk data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (aplikasi SIGIZI / e - PPGBM) tanggal 31 Desember 2021 sebesar 13,24 % atau sebanyak 1.221 balita, dengan metode penghitungan jumlah balita stunting dibandingkan dengan jumlah balita yang diukur / dientry, yang tersebar di 10 Kecamatan dan 15 Puskesmas yang ada di kabupaten Tolitoli.

Di hadapan Dandrem 132/Tdl Teguh Bondan 

Memaparkan bahwa kasus gizi buruk di kabupaten Tolitoli, pada tahun 2021 sebanyak 58 kasus dan berhasil ditangani (sembuh) sebanyak 48 anak, meninggal 2 anak dan sampai dengan akhir Desember 2021.

"Masih ada 8 kasus yang masih mengalami gizi buruk karena adanya penyakit penyerta diantaranya kelainan bawaan, Pada Bulan Januari Sampai dengan akhir Mei 2022, jumlah kasus baru Gizi Buruk sebanyak 29 kasus dan dinyatakan sembuh sebanyak 11, masih ada 18 kasus yang saat ini masih dalam penanganan Puskesmas," Jelasnya.

"Untuk itu, Pada tahun 2022, telah ditetapkan lokus desa stunting sebanyak 10 desa yang akan dilakukan intervensi baik spesifik maupun sensitive yakni Kecamatan Dampal Selatan ( Desa Bangkir dan Desa Dongko ), Kecamatan Dondo (Desa Ogogili, Ogowele Buga, Pangkung dan Luok Manipi) dan Kecamatan Basidondo (Desa Labonu, Kayulompa, Kongkomos dan Ogosipat)," Pungkas Sekertaris Dinkes Tolitoli Teguh Bondan di hadapan unsur Forkopimda.

Sementara itu dalam sambutannya  Dandrem 132/Tdl Brigjen TNI Toto Nurwanto S.I.P., M.Si menegaskan bahwa TNI AD dalam hal ini Korem 132/Tdl Siap mendorong percepatan penurunan anak Stunting dan siap menjadi Bapak Asuh anak Stunting di Sulteng khususnya Kabupaten Tolitoli.

"Saya Mengajak semua pihak terutama dinas terkait mulai dari BKKBN, Dinas Kesehatan dan PKK untuk bekerja sama mengatasi anak stunting ini," Ucapnya.

Menurutnya, Program Bapak Asuh Stunting merupakan program yang dibuat guna meningkatkan gizi pada anak-anak yang mengalami masalah dalam tumbuh kembang. Juga monitoring gizi anak asuhnya melalui makanan sehat yang dibuat oleh tim pendamping keluarga (TPK) dibawah  komando Kodim 1305/BT.

"Program Bapak Asuh dibuat berbasiskan pada aplikasi perangkat lunak dan memiliki target prioritas anak asuh yakni bayi di bawah usia dua tahun. Yang mana program ini memiliki konsep, setiap donatur akan membantu anak-anak asuhnya yang terkena stunting dan berasal dari keluarga tidak mampu nantinya, berupa dana yang akan digunakan oleh TPK untuk membuat makanan yang sehat dengan gizi seimbang,”tegas

"Dengan adanya Kegiatan ini kita bisa mengurangi angka stunting di Kabupaten Tolitoli, Kemudian terkait masalah jamban,  kami akan coba membantu berkoordinasi dengan Dirjen kesehatan masyarakat agar bisa membantu Pemda kabupaten Tolitoli dalam pembagunan jamban yang masih sangat minim di wilayah kodim 1305/BT," Jelasnya *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1