Launching Inovasi “Sanger Ureung Aceh” dan ToT (Training of Trainer) Kader Inovasi “Sanger Ureung Aceh”


TransSulteng -Banda Aceh-Balai Besar POM di Banda Aceh dalam upaya mewujudkan reformasi birokrasi 

untuk meraih predikat WBK tahun 2022, maka kami mengembangkan inovasi 

pelayanan publik yang dinamai “Sanger Ureung Aceh” yang di adakan pada Hari Kamis 4 Agustus 2022 di Aula Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.

Menurut Kepala BBPOM di Banda Aceh Yudi Noviandi, M.Sc, Tech., Apt Peresmian Kegiatan Pelatihan Kader Sanger 

Ureung Aceh Ke 1.000 Warung Kopi akan di resmikan oleh PJ Gubernur Aceh Bapak Ahmad Marzuki serta penyematan Tompi kepada kader secara simbolis.

Di kutip Dari Strategi News,Hadir Pada Acara Launcing tersebut Sekda Aceh di wakili oleh Drs Bukhari, MM, Inspektur Utama Badan POM RI yang hadir secara daring di wakili oleh Hans G.K Inspektur ll BPOM Pusat, dr. Hanif Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ir. Hamry Gusman Zakaria, MM sebagai Motivator dan Founder Motivasi Indonesia,serta tamu undangan kepala dinas dan perwakilannya,diantaranya Satpol PP Aceh, Dinas Pangan Aceh, DPMPTSP Aceh, Dinas Pariwisata Aceh, Dinas Koperasi dan UMKM Aceh, Desperindag, Dinas Kesehatan, KPIA, Ombudsman Aceh, Dinas Kesehatan, Yayasan Perlindungan dan Konsumen Aceh(YAPKA), MPU Aceh, Kepala LOKA POM Aceh Tengah dan Aceh Selatan.

Inovasi ini merupakan 

bentuk pengembangan inovasi pelayanan publik berupa kegiatan Tribakti (KIE 

Pangan Aman, Pemeriksaan Sarana dan Pengujian Makanan) kepada 

masyarakat yang dilakukan ke 1000 warung kopi di Provinsi Aceh.

Saat ini menu yang ditawarkan di setiap kafe sangat beragam, namun sebagian besar 

kafe menjadikan Mie aceh menjadi sajian utama. Makanan khas satu ini menjadi favorit bagi masyarakat, sayangnya masih ditemukan Bahan Berbahaya (boraks) dalam 

makanan tersebut, selain itu masih ditemukan pemakaian teh hijau Thailand dan milo 

Malaysia yang tidak memiliki izin edar, serta di beberapa warung kopi dijumpai penjualan 

produk jamu yang mengandung BKO seperti pil cap tupai, dll. Disinilah fungsi Badan 

POM sebagai lini utama dalam menjamin keamanan dan kesehatan masyarakat.

Tak hanya layanan Komunikasi Informasi dan Edukasi yang diberikan kepada masyarakat, 

BBPOM di Banda Aceh juga melakukan sampling dan pengujian pangan yang dicurigai 

mengandung Bahan Berbahaya dengan rapid test kit. Sehingga harapan kedepan 

pembeli mie di warung kopi mengetahui cara membeli mie yang aman untuk dikonsumsi.

Balai Besar POM di Banda Aceh Juga bertujuan di antaranya:

1. Komunikasi, Informasi dan Edukasi Pangan Aman dan Sosialisasi aplikasi BPOM 

Mobile untuk mengetahui legalitas produk Obat dan Makanan, layanan 

pengaduan serta berita up to date terkait Obat dan Makanan secara tidak 

langsung melalui aplikasi online.

2. Pengawasan Obat dan Makanan di warung kopi perlu dilakukan mengingat masih 

ditemukannya produk Illegal/Tanpa Izin Edar (TIE) yang dijual di warung-warung 

kopi.

3. Untuk menjamin keamanan masyarakat, dilakukan pengujian pangan olahan

yang dicurigai yang dijual di warung kopi tersebut.

Dalam rangka menciptakan pangan aman dan warung kopi bebas dari bahan 

kimia berbahaya di Provinsi Aceh, maka BBPOM di Banda Aceh mengadakan 

kegiatan "SANGER UREUNG ACEH" (KIE, Pemeriksaan, dan Pengujian Pangan 

Aman) dengan melibatkan 50 orang kader yang akan melakukan "SANGER 

UREUNG ACEH" ke 1.000 Warung Kopi di Provinsi Aceh dengan durasi dua (2) 

minggu

. Sebelum dan setelah mengadakan "SANGER UREUNG ACEH", akan dilakukan 

Survei kepada Kader dan masyarakat.

Kepala BBPOM di Banda Aceh Yudi Noviandi, M.Sc, Tech., Apt juga mengatakan bahwa Sanger Ureung Aceh nantinya akan di berikan tugas, diantaranya:

1. KIE Pangan Aman

a. Memberikan informasi terkait pangan aman.

b. Menyediakan layanan konsultasi melalui WA, IG, E-mail, dan BPOM Mobile

2. Pemeriksaan Sarana Dan Prasarana Pangan Aman.

a. Melakukan pemeriksaan terhadap sarana dan prasarana pangan, khususnya 

mie aceh dan panganan yang dijual di warung kopi.

b. Melakukan sosialisasi BPOM Mobile, sebagai upaya pengawasan pangan 

yang dapat dilakukan masyarakat secara mandiri.

3. Pengujian Kandungan Berbahaya (boraks) Pada Pangan Olahan

a. Melakukan pengujian boraks terhadap pangan, khususnya mie aceh dan 

panganan yang di jual di warung kopi yang beredar di masyarakat yang telah 

tersebar di Provinsi Aceh

b. Melaporkan hasil pengujian pangan di warung kopi.

Lebih lanjut, Bapak Yudi Noviandi juga menjelaskan bahwa kegiatan Sanger Ureung Aceh yang berjumlah 50 orang tersebar di 16 Kabupaten/Kota di Aceh, Kota Banda Aceh memiliki peserta kader Sanger Ureung Aceh terbanyak dengan jumlah 30 orang peserta di ikuti Kabupaten Aceh Besar 6 orang kader, sedangkan Kota Sabang, Kaupaten Aceh Jaya ,

Simeulu, 

Nagan Raya, Aceh Barat Daya ,Pidie, 

Pidie Jaya, 

Aceh Barat,

 Aceh Utara,

 Bireuen, 

Kota Lhokseumawe ,

Kab. Aceh Timur, 

Aceh Tamiang, dan Kota Langsa masing-masing hanya mewakili 1 orang, tutupnya.

(Muhazir/SD)

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1