Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Nasrun, S.H., C.Neg. tekankan dampak psikologis dan ekonomi pernikahan dini, serta pentingnya negosiasi dalam menyelesaikan sengketa desa.

الخميس، 21 مايو 2026 | مايو 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-21T09:12:31Z


TransSulteng-Ampana ,Tojo Una una– Pencegahan pernikahan dini dan penguatan resolusi konflik menjadi fokus utama dalam peresmian Satuan Tugas (Satgas) Pos Bantuan Hukum(Posbakum) di Desa Urundaka, Kecamatan Ampana Tete, Kamis (21/5/2026).


 Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pos Bakumadin  Kabupaten Tojo Una-Una, Nasrun, S.H., C.Neg., menegaskan bahwa tanggung jawab pengawasan pergaulan remaja tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah, melainkan memerlukan peran aktif orang tua sebagai filter utama di rumah.


Sebagai seorang negosiator tersertifikasi (Certified Negotiator), Nasrun juga menekankan pentingnya pendekatan persuasif dan mediasi dalam menangani berbagai persoalan sosial di masyarakat, termasuk keluhan warga terhadap aparat desa.


Keterangan Narasumber  Nasrun, S.H., C.Neg. (Ketua Pos bakumadin  Tojo Una-Una)

Nasrun menjelaskan bahwa maraknya pernikahan dini di wilayah kepulauan sering kali berakar dari lemahnya kontrol sosial terhadap pergaulan bebas remaja. Ia menguraikan dua dampak fatal yang harus dipahami oleh orang tua dan remaja:


Dampak Psikologis: "Remaja yang menikah dini belum memiliki kematangan emosi untuk mengelola konflik rumah tangga. Hal ini berpotensi memicu stres berkepanjangan, kekerasan domestik, hingga trauma psikis yang berdampak pada generasi berikutnya," ujar Nasrun.


Dampak Ekonomi: "Pasangan muda umumnya belum memiliki stabilitas finansial. Memaksakan diri membangun rumah tangga tanpa bekal ekonomi akan menjebak mereka dalam kemiskinan struktural. Ini perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak tidak mengambil 'jalan pentas' melalui pergaulan bebas yang berujung pada kehamilan di luar nikah," tambahnya.


Nasrun juga menyoroti pentingnya keterampilan bernegosiasi dan berkomunikasi bagi para orang tua dan perangkat desa. 


"Sekolah memberikan pendidikan formal, tetapi moral dan pengawasan harian ada di tangan orang tua. Jika terjadi gesekan, selesaikan dengan kepala dingin melalui musyawarah atau mediasi, bukan dengan teriakan atau intimidasi," tegasnya.


Keterangan  Warga Desa Urundaka 

Di sisi lain, acara peresmian juga menjadi wadah aspirasi masyarakat.


 Seorang warga setempat menyampaikan keluhan pedas terkait perilaku sebagian oknum pejabat desa yang dinilai arogan, termasuk kerap berteriak-teriak di area sekitar sekolah.


"Saya sampaikan ini karena kasihan melihat saudara-saudara saya yang jadi buruh. Hidup sudah berat, tapi setiap pagi dan sore saat antar-jemput anak, saya mendengar teriakan kasar dari pejabat itu. 

Saya titipkan pesan ini supaya disampaikan kepada keluarganya, agar jabatan tidak disalahgunakan untuk menyakiti hati rakyat kecil," ungkap warga tersebut dengan suara bergetar.


Keterangan Narasumber  Danramil 1307-01/Ampana,

Menanggapi keluhan warga, Danramil 1307-01/Ampana,  menyatakan apresiasi terhadap keberanian warga berbicara jujur. Ia menegaskan bahwa aparatur desa harus menjadi teladan, bukan sumber ketakutan. 


"Keluhan bapak ini sangat berharga. Pejabat desa harus ingat, mereka dipilih oleh rakyat. Berteriak-teriak dan bersikap arogan di depan umum, apalagi di lingkungan pendidikan, adalah bentuk kegagalan dalam kepemimpinan. Kami akan koordinasikan ini dengan Forkopimcam untuk evaluasi dan pembinaan," ujar Danramil.


Keterangan Narasumber Kepala Desa Urundaka

 menerima masukan tersebut dengan lapang dada. Ia berkomitmen untuk mengevaluasi perilaku perangkat desanya dan mendukung program edukasi Posbakum.


"Kami terima kritik ini sebagai bahan evaluasi. Bersama Satgas Posbakum dan bimbingan dari Forkopimcam serta Danramil, kami akan berusaha menciptakan Desa Urundaka yang lebih harmonis, adil, dan menghargai martabat setiap warganya," kata Kades Syarifuddin.


Pewarta: Ahmad Tuliabu

×
Berita Terbaru Update
close
Banner iklan disini