TRANS SULTENG - KRISIS listrik yang melanda Kabupaten Morowali Propinsi Sulawesi Tengah saat ini menciptakan keresahan bagi warga. Pemadaman yang seringkali terjadi bukan tidak mungkin menghambat produktivitas ekonomi masyarakat.


Abdul Ghafur Halim, salah seorang penggiat sosial mengungkapkan bahwa krisis listrik yang terjadi ini harus segera ditangani dan semua pihak yang terkait wajib duduk bersama guna mencarikan solusi bagi masyarakat.


"Listrik itu salah satu kebutuhan mendasar rakyat. Listrik itu hak rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Semua yang terkait harus mengambil langkah, mencari solusi tepat," tuturnya.



Ghafur juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah, baik eksekutif maupun legislatif terkesan lamban dalam memberikan respon penekanan terhadap kinerja PLN yang dinilainya tidak profesional.


"Masalah listrik ini kan bukan barang baru didaerah kita ini. Ini boleh dibilang masalah rutin. Yang saya sayangkan, baik eksekutif maupun legislatif daerah kita kesannya sangat lamban dalam memberi teguran atau penekanan kepada pihak PLN untuk memperbaiki kondisi yang ada," terangnya.


Ghafur justeru mengapresiasi dua anggota DPR RI asal Morowali yang angkat suara tegas terkait persoalan listrik yang ada di Morowali.


"Harusnya, anggota DPRD kita di Morowali ini dan juga pihak eksekutif malu kepada dua wakil kita disenayan yang justru lebih getol dan tegas dalam persoalan ini. Sikap seperti itu lebih harusnya terlebih dahulu ditunjukkan oleh pemerintah daerah kita dalam hal ini eksekutif dan legislatif," tegasnya.


Lebih lanjut, Ghafur menyarankan agar pemerintah daerah mulai melakukan kajian pencadangan sumber listrik untuk menghindari terjadinya kembali krisis listrik yang merugikan masyarakat.


"Saya tidak tahu apakah pemerintah daerah punya konsep alternatif atau seperti apa, yang jelas sebagai warga saya menyarankan kepada pemerintah daerah untuk mulai mengkaji sumber alternatif sebagai cadangan listrik untuk menghindari krisis serupa atau yang lebih parah dari yang sekarang ini terjadi," paparnya.


Ghafur menjelaskan bahwa Listrik Desa dapat menjadi solusi alternatif jika terjadi krisis penerangan dimasyarakat. Listrik Desa yang dimaksudkan oleh Ghafur adalah pembangunan cadangan sumber listrik ditiap-tiap desa yang dikelola oleh pemerintah-pemerintah desa setempat.


"Jadi modelnya bisa tenaga surya, atau bisa juga pengadaan genset. Jadi disetiap desa ada. Tentu jika terjadi pemadaman atau krisis listrik maka masing-masing pemerintah desa dapat menyalakan sumber listrik alternatifnya untuk menerangi desa masing-masing. Bayangkan jika disemua desa ada yang seperti itu, tentu krisis listrik seperti ini tidak akan terlalu berdampak bagi masyarakat," terangnya.


Mengenai teknis dan anggaran dari Listrik Desa seperti yang disebutkannya, Ghafur mengatakan bahwa pemerintah lebih faham akan hal itu.


"Soal teknis dan anggarannya kan pemerintah lebih ngerti. Kalau ada yang menganggap konsep ini ketinggalan jaman atau tidak relevan yah coba hadirkan konsep lain yang lebih relevan dan modern," pungkasnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama