TransSulteng-Ampana– Jika dunia ini adalah panggung sandiwara, maka profesi jurnalis di Kabupaten Tojo Una-Una kini sedang dinodai oleh lakon paling memuakkan.
Lantai panggung pers yang seharusnya suci, kini beralaskan "kertas merah" akibat ulah oknum wartawan yang menggadaikan integritas demi materi.
Kasus mengejutkan baru-baru ini mencuat, membongkar tabiat culas seorang oknum jurnalis yang tega menikam rekan seprofesinya dari belakang demi mengejar keuntungan pribadi dan mencari muka di hadapan institusi Polri.
Peristiwa ini ibarat mematahkan tangan sendiri. Persatuan jurnalis yang seharusnya kokoh, retak seketika ketika lembaran uang merah mulai berbicara.
Hubungan kemitraan dan persahabatan yang telah dipupuk lama langsung luntur, berubah dari warna merah yang membara menjadi kelabu, sedarkah kita bahwa "orangnya" ternyata berwarna abu-abu penuh kemunafikan dan tidak punya pendirian.
Kronologi pengkhianatan ini bermula saat sebuah berita investigasi digarap dan disusun bersama-sama oleh tim wartawan. Namun, ibarat peribahasa "persahabatan kedua telinga"yang letaknya berdekatan tetapi tidak pernah saling melihat oknum wartawan tersebut melancarkan aksi khianatnya.
Begitu berita bersama itu tayang dan meledak di publik, oknum tersebut langsung "lari sendiri" membawa materi mentah demi mengejar lembaran merah.
Tidak berhenti di situ, demi mendapatkan pujian dan dinilai sebagai "anak emas" oleh institusi Polres Tojo Una-Una yang menjadi sasaran berita, oknum abu-abu ini dengan tidak tahu malu merilis berita tandingan (kontra-narasi).
Tindakan ini jelas dilakukan alih-alih untuk membersihkan nama institusi, padahal tujuan utamanya hanyalah "makan puji" dan meraup keuntungan sepihak.
Kecaman Keras dari Sesama Wartawan
Tindakan tidak terpuji ini memancing amarah dari jurnalis senior di Tojo Una-Una.
Korban yang juga merupakan rekan kerja pelaku, angkat bicara dengan nada tegang dan penuh kekecewaan.
"Kami menyusun data dan mengonfirmasi kasus ini bersama-sama di lapangan. Susah senang kami tanggung berdua. Tapi begitu berita naik, dia justru berbalik arah, menemui pihak Polres Tojo Una-Una sendirian didiga untuk 'menjual' berita tandingan demi lembaran merah.
Ini adalah bentuk kemunafikan tertinggi dalam profesi pers! Dia tidak hanya menikam saya dari belakang, tetapi juga telah melacurkan profesi jurnalis demi sekadar dipuji oleh aparat."
Kritik pedas juga datang dari perwakilan Organisasi Pers Lokal yang menyayangkan pudarnya kode etik di kalangan jurnalis Tojo Una-Una akibat nafsu materi.
"Persahabatan sesama wartawan itu sifatnya mutlak dalam menjaga solidaritas profesi. Kalau ada oknum yang menjadikan profesi mulia ini sebagai panggung sandiwara dan alas kertas merah, maka dia adalah benalu. Membuat berita tandingan untuk membela objek berita yang sedang dikritik, tanpa dasar investigasi yang independen, hanya demi cari muka di hadapan institusi Polri, adalah pelacuran intelektual. Kami tidak akan tinggal diam melihat persatuan jurnalis dicederai oleh orang-orang bermental abu-abu seperti ini."
Sampai berita ini diturunkan, oknum wartawan yang dituding melakukan pengkhianatan tersebut belum memberikan klarifikasi resmi
Kasus ini menjadi catatan hitam di dunia pers Tojo Una-Una, mengingatkan seluruh pekerja media bahwa musuh terbesar jurnalisme hari ini bukan lagi pembungkaman, melainkan pengkhianatan dari dalam selimut demi "lembaran merah".
(Ahmad Tuliabu)


