TRANS SULTENG - PULAU Tomini adalah salah satu pulau indah yang berada di kawasan Teluk Tomini Desa Malalan Kecamatan Mepanga Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) akhir-akhir ini ramai dipergunjingkan publik. 


Konon kabarnya, pulau tersebut sudah laku terjual kepada Pengusaha dengan harga yang sangat fantastis sebesar Rp 10 juta setara dengan harga motor bekas.


Padahal sejatinya, pengelolaan pulau-pulau kecil diperuntukan untuk upaya konservasi sebagaimana yang diungkapkan Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan pelaku usaha hanya diperkenankan mengelolah suatu pulau maksimal sebesar 70% wilayah pulau tersebut, itupun dengan syarat dikelola sebagai daerah konservasi sehingga menyisakan sekitar 49% yang bisa dikelola untuk keperluan produksi, bioteknologi, wisata bahari dan lain-lain.


Disamping itu, seharusnya pengelolaan suatu pulau harus didasarkan pada kepentingan untuk memenuhi hak-hak rakyat, hal urgen yang harus diantisipasi adalah potensi konflik disekitar pulau tersebut, seandainya pihak Pengusaha melakukan pembatasan aktivitas (bagi nelayan, wisatawan, pemancing) disekitar pulau untuk keperluan bisnis, maka konflik adalah hal mudah untuk ditebak.


Oleh karenanya diperlukan peran pemerintah terkhusus para anggota Legislatif DPRD Kabupaten Parigi Moutong untuk menjembatani distribusi keakuratan informasi melalui diselenggarakannya Rapat Dengar Pendapat untuk mengundang pihak terkait dalam hal ini Pemerintahan setempat.Hal ini untuk menjawab polemik jual beli Pulau Tomini, sehingga masyarakat tidak terlalu liar berasumsi tentang Pulau Tomini yang terjual.


Dari hasil rapat juga bisa menjadi titik balik advokasi mengenai Pulau Tomini apakah akan dikembalikan kepada fungsi asal sebagai daerah konservasi atau tetap dikelola oleh pihak pengusaha.


Terakhir, harapan besar Pulau Tomini melalui upaya konservasi tetap menjadi area yang ramah bagi nelayan untuk mencari hasil laut, serta menjadi icon menarik Teluk Tomini yang tidak pantas diperjual-belikan.


Ahmad Rifai

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama