TransSulteng-Ampana– Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dapur Sumoli menuai protes keras dari kalangan orang tua murid.
Pengelola dapur yang disebut-sebut dikelola oleh oknum Ibu Bhayangkari ini diduga lalai dalam menjaga kualitas sajian dan ketepatan waktu distribusi.
Kekecewaan ini meledak di media sosial setelah Riri Rizal, salah satu orang tua siswa di SDN 10 Ratolindo, mengunggah keluhannya melalui akun Facebook pribadinya pada Sabtu (28/03/2026).
Postingannya menjadi wadah bagi wali murid lain untuk menyuarakan pengalaman serupa.
Makanan Tiba Saat Kelas Kosong Riri Rizal dan sejumlah netizen mengungkapkan bahwa sering kali paket MBG baru tiba di sekolah setelah para siswa pulang ke rumah.
Akibat keterlambatan pengantaran ini, kondisi makanan dan minuman mengalami penurunan kualitas secara drastis.
"Kebanyakan makanan dan minuman yang dibawa pulang oleh anak kami sudah basi, Pak. Terpaksa kami suruh buang saja karena sudah tidak layak konsumsi," ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sorotan Terhadap Standar Gizi dan Anggaran
Tak hanya soal kualitas yang buruk, warga juga menyoroti kuantitas sajian yang dinilai tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
Masyarakat menilai jika kondisi ini dibiarkan, maka program MBG hanya akan menjadi ajang pemborosan uang negara karena makanan berakhir di tong sampah tanpa memberikan manfaat gizi bagi anak-anak.
Warga dan orang tua siswa SDN 10 Ratolindo mendesak pihak berwenang untuk segera mengevaluasi kinerja pengelola Dapur MBG Sumoli demi memastikan hak gizi anak-anak terpenuhi dengan layak.






