Notification

×
Kadis-Kesehatan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maut di Perut Dongi-dongi: Ketika Nyawa Penambang Ditukar 'Cuan' di Atas Kertas yang Mengabaikan Keselamatan

الثلاثاء، 3 نوفمبر 2026 | نوفمبر 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-11-03T22:17:14Z


TransSulteng–POSO — Kawasan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Persiapan Dongi-dongi, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, kembali mencatatkan sejarah kelamnya. Pada Senin malam (2/11/2026) sekitar pukul 22.00 Wita, longsor maut menerjang dan merenggut nyawa manusia.



Dua penambang tewas seketika di lokasi, sementara dua lainnya harus meregang kesakitan akibat luka berat. Namun, di balik narasi "bencana alam" yang kerap dijadikan kambing hitam oleh para penguasa modal, tragedi ini adalah buah manis dari pembiaran sistematis: kelalaian brutal yang dibungkus aktivitas ilegal.



Kronologi Kecerobohan: Nyawa Manusia Kalah oleh Ambisi Keruk

Berdasarkan kesaksian di lapangan dari Anto (52) dan Fahri (27), petaka ini sama sekali bukan musibah murni tanpa sebab. Peristiwa bermula ketika para penambang manual bertaruh nyawa di bawah bahu gunung untuk mengumpulkan sisa material.



Pada saat yang sama, sebuah alat berat jenis excavator yang entah bagaimana bisa leluasa beroperasi—tengah merusak tebing di bagian atas. Hasilnya bisa ditebak: struktur tanah yang dipangkas sembarangan runtuh seketika. 




Bebatuan raksasa dan lumpur menimbun para pekerja tanpa ampun, tanpa ruang sedikit pun untuk menyelamatkan diri.

Tragedi ini menelan korban jiwa yang merenggut masa depan keluarga mereka:

Jamal (47), warga Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.



Mat (50), warga Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Serta dua korban luka berat yang kini harus dilarikan ke Kota Palu untuk menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman kecacatan permanen.



Catatan Kritis: Siapa yang Sebenarnya "Buta" di Dongi-dongi?

Insiden Dongi-dongi seharusnya tidak boleh lagi disikapi dengan sekedar ucapan belasungkawa klise atau lembar evaluasi basi. Ada persoalan moral dan hukum yang mendasar.



Pembiaran Terstruktur Bernama PETI: Bagaimana mungkin aktivitas penambangan liar menggunakan alat berat sebesar excavator bisa beroperasi di kawasan hutan atau pegunungan tanpa terdeteksi? Aparat penegak hukum dan instansi terkait harus berhenti pura-pura tuli dan buta. Pembiaran ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap keselamatan warga.



Keselamatan Pekerja Dinomorduakan: Para penambang manual dijadikan tumbal di garis depan demi memuaskan rantai pasok ekonomi bawah tanah, sementara para pemilik modal alat berat kerap lepas tangan saat musibah datang menjemput.



Kode Etik Jurnalistik dan Kepekaan Kemanusiaan: Media massa wajib mendudukkan kasus ini bukan sekedar statistik kriminal atau insiden harian, melainkan alarm keras atas gagalnya negara melindungi hak atas hidup dan lingkungan yang aman (sebagaimana diamanatkan dalam etika jurnalistik untuk berpihak pada kepentingan publik yang tertindas).



Aparat keamanan bersama warga memang tengah melakukan penyisiran lanjutan di lokasi. Namun, pencarian korban tidak boleh berhenti sekadar mengevakuasi jasad. Pengusutan tuntas terhadap pemilik alat berat dan pihak-pihak yang membekingi operasi ilegal ini harus diseret ke meja hijau.



Jangan biarkan darah Jamal dan Mat mengering begitu saja di atas tanah Dongi-dongi tanpa ada pihak yang terseret dan jera atas keserakahan mereka!

×
Berita Terbaru Update
close
Banner iklan disini