Qurban Tanda Ketaatan dan Keikhlasan Untuk Cinta


Transsulteng-Morowali -Menikmati secangkir kopi di Warkop Aweng, secara tidak sengaja telinga ini menangkap sebuah pembicaraan dari pasangan pemuda yang bercerita soal ketaatan dan cinta yang mereka bangun bersama. Pancaran kebahagiaan terlihat jelas dari air muka keduanya, karena kekuatan cintalah yang mampu menjaga ketaatan atas komitmen yang mereka materaikan dalam diri mereka.

 Jika cinta anak manusia dapat diwujudkan secara nyata dengan komitmen ketaatan, maka cinta terhadap Allah termaknai secara jelas dalam spritualitas qurban. 

 Dalam dimensi qurban, tidak terbantahkan lagi menjadi bentuk dari ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Ketaatan yang harus didasarkan pada rasa ikhlas yang benar-benar berasal dari dalam diri pribadi sebagai bentuk pengakuan dan kedekatan terhadap Allah.

Jika untuk sesama manusia tanda ketaatan dapat dijaga untuk cinta terhadap sesama, maka sudah seharusnya ketaatan terhadap Allah juga dapat dihadirkan dalam bentuk cinta untukNya yang tidak berkesudahan.

 Tradisi qurban jika dilihat dari dimensi spiritualitas merupakan sikap ketaatan yang harus dilandasi dengan keikhlasan untuk memberikan yang terbaik kepada Allah. Memberikan yang terbaik dan satu-satunya yang dimiliki untuk Allah memerlukan kualitas spiritualitas yang tinggi. Ketaatan yang didasarkan oleh keikhlasan bisa diwujudkan jika kita dapat merasakan kedekatan dengan Allah, kedekatanlah yang melahirkan spiritualitas yang tinggi.

Sedangkan dimensi sosial juga terpancar dari nilai-nilai qurban. Kekuatan cinta untuk berbagi dalam kemanusian menjadi esensi qurban. Berbagi untuk kesejahteraan bersama merupakan perspektif dari bangunan ketaqwaan kita kepada Allah secara horizontal.

Betapa indahnya kehidupan ini ketika cinta kemanusiaan terbagi untuk melahirkan kesejahteraan sosial. Melahirkan senyuman manis dari kaum "papa" merupakan kebahagiaan tersendiri jika tangan ini terbuka lebar untuk memberi.

 Kedua dimensi tersebut melahirkan harmonisasi kehidupan yang tanpa ada sekat secara dialektika. Keseimbangan dalam hablum minallah dan hablum minannas menjadi kekuatan yang dilahirkan dari kebahagiaan dan keharmonisan kehidupan.

 Jika cinta kemanusiaan adalah rasa kasih sayang yang muncul dari lubuk hati yang terdalam untuk kerelaan berkorban tanpa mengharapkan balasan, maka fondasinya pastilah ketaatan dan keikhlasan. Makna qurban bukan saja tafsir secara eksplisit terhadap teks, tetapi jauh menyentuh jiwa. Ketaatan dan keikhlasan untuk melaksanakan perintah Allah merupakan wujud cinta bagi Allah. Segala cinta yang hadir dari hasil ketaatan dan keikhlasan untuk memberikan yang terbaik dari apa yang dimiliki akan menghadirkan senyuman kebahagiaan.

Uthhiyah atau dhahiyyah tidak lagi berwujud hewan kurban tapi kesombongan, keangkuhan, iri hati, harus dikorbankan agar kehidupan sosial dapat dibangun dalam keharmonisan sosial. Sudah saatnya qurban wa qurbaanan dapat mendekati atau menghampiri setiap mereka yang membutuhkan cinta kemanusian. Masalahnya adalah kadang kala ketaatan dan keikhlasan sulit diwujudkan jika cinta tak berbalas. (IKP-Diskominfo)

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1