Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AKP Siti Elminawati, Polwan Tangguh yang Mengabdi dengan Hati untuk Perempuan dan Anak

Jumat, 15 Mei 2026 | Mei 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-16T02:02:31Z


TransSulteng-Sigi ,Sulawesi Tengah— Sosok AKP Siti Elminawati Hasibuan dikenal sebagai perwira polisi perempuan yang tidak hanya tegas dalam penegakan hukum, tetapi juga memiliki kepedulian besar terhadap korban, khususnya perempuan, anak, dan kelompok rentan. Dedikasi serta pengabdiannya selama bertahun-tahun di bidang reserse kriminal menjadikannya salah satu figur inspiratif di lingkungan Polri, khususnya di Sulawesi Tengah.


Namanya kembali menjadi perhatian publik setelah masuk sebagai salah satu dari tiga kandidat terkuat penerima Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Pelindung Perempuan, Anak, dan Kelompok Rentan. Menariknya, pencalonan tersebut datang dari masyarakat melalui platform digital detikcom, bukan dari institusi tempatnya bertugas.


Bagi AKP Siti, penghargaan tersebut bukanlah semata-mata pencapaian pribadi. Ia menilai kepercayaan masyarakat itu merupakan bentuk apresiasi terhadap seluruh jajaran kepolisian yang selama ini bekerja melayani masyarakat.


“Ini bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk institusi, Polda Sulawesi Tengah dan Polres Sigi,” ujarnya dengan rendah hati.


Selama 24 tahun mengabdi di tubuh Polri, sebanyak 17 tahun di antaranya dijalani AKP Siti di bidang Reserse Kriminal, khususnya menangani perlindungan perempuan dan anak. Dalam menjalankan tugas, ia dikenal sebagai sosok yang selalu turun langsung ke lapangan dan tidak pernah membedakan dirinya sebagai seorang polwan.


Hal itu terlihat saat penanganan kasus pembunuhan seorang perempuan berinisial LL (44) yang ditemukan meninggal dunia di pinggir jalan Desa Padende, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, pada akhir November 2025 lalu.


Saat laporan diterima Polres Sigi, AKP Siti langsung memimpin olah tempat kejadian perkara bersama tim gabungan Polres Sigi dan Ditreskrimum Polda Sulawesi Tengah. Meski minim petunjuk dan tanpa saksi mata, penyelidikan dilakukan secara intensif siang dan malam tanpa mengenal lelah.


Berkat kerja keras tim yang dipimpinnya, tersangka akhirnya berhasil ditangkap kurang dari 48 jam setelah kejadian, lengkap dengan barang bukti yang menguatkan.


Menurut Ipda Hamzah Lasangka, salah satu anggota yang bekerja bersama AKP Siti, kepemimpinan atasannya tersebut sangat dirasakan langsung oleh seluruh personel.


“Beliau tidak pernah hanya memberi perintah dari belakang meja. Beliau turun langsung bersama anggota dan memimpin dari depan,” ungkapnya.


Tak hanya dikenal profesional dalam mengungkap kasus, AKP Siti juga memiliki pendekatan humanis terhadap para korban. Ia mengaku selalu berusaha menempatkan diri sebagai keluarga korban agar dapat memahami perasaan mereka secara utuh.


“Saya menganggap korban seperti keluarga sendiri. Saya membayangkan apa yang mereka alami bisa saja terjadi kepada saya atau keluarga saya,” tuturnya.


Pendekatan penuh empati itu membuat banyak korban merasa nyaman dan akhirnya berani terbuka mengenai peristiwa yang mereka alami. Baginya, proses pendampingan terhadap korban tidak cukup hanya dengan prosedur hukum, tetapi juga membutuhkan sentuhan kemanusiaan.


Pengalaman panjang menangani kasus perempuan dan anak juga membuat AKP Siti memiliki perhatian besar terhadap dampak perkembangan teknologi digital. Ia menilai akses mudah terhadap konten pornografi menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak.


Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya keharmonisan keluarga dalam pembentukan karakter anak. 


Dari pengalamannya selama bertugas, banyak kasus yang melibatkan anak berakar dari kondisi keluarga yang tidak harmonis.


“Saya melihat sendiri bagaimana keretakan rumah tangga bisa berdampak besar terhadap kehidupan anak-anak,” katanya.


Sebagai Kasat Reskrim perempuan pertama di Sulawesi Tengah, AKP Siti juga dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang terbuka dan komunikatif. Dalam setiap penanganan perkara, ia selalu melibatkan anggota untuk berdiskusi dan memberikan masukan.


“Beliau tidak otoriter. Semua keputusan selalu dikomunikasikan bersama anggota,” tambah Ipda Hamzah.


Di balik kesibukannya sebagai aparat penegak hukum, AKP Siti tetap menempatkan keluarga sebagai sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya.


“Keluarga adalah tempat saya kembali ketika menghadapi situasi paling berat. Doa untuk keluarga tidak pernah putus setiap hari,” ujarnya.


Meski namanya kini menjadi kandidat kuat penerima penghargaan nasional, AKP Siti memilih tetap sederhana dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.


“Saya tidak terlalu berharap soal penghargaan. Apa pun yang Tuhan berikan, itulah yang terbaik,” katanya.


Namun satu hal yang tetap ia pegang teguh dalam menjalankan tugas pengabdian adalah komitmen untuk terus melayani masyarakat dengan tulus.(Narasumber Rif../penulisWafiq)

×
Berita Terbaru Update
close
Banner iklan disini