TransSulteng-Gorontalo– Cuaca ekstrem yang melanda perairan Teluk Tomini memaksa KM Sabuk Nusantara 99 mengubah rencana pelayaran. Kapal yang berlayar dari Pelabuhan Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, tidak dapat bersandar di Pelabuhan Gorontalo akibat gelombang tinggi dan kondisi laut yang membahayakan keselamatan pelayaran.
KM Sabuk Nusantara 99 bertolak dari Pelabuhan Ampana pada Kamis, 23 Juli 2026, dengan tujuan Pelabuhan Gorontalo. Namun, dalam perjalanan, cuaca di perairan Teluk Tomini memburuk. Ombak tinggi disertai angin kencang membuat nahkoda mengambil keputusan untuk tidak memaksakan kapal memasuki pelabuhan tujuan.
Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan aspek keselamatan pelayaran. Dalam situasi cuaca yang tidak bersahabat, keselamatan penumpang, awak kapal, dan kapal menjadi prioritas utama sehingga risiko berlayar di tengah gelombang tinggi harus dihindari.
Pada Jumat, 24 Juli 2026, sekitar pukul 06.00 WITA, KM Sabuk Nusantara 99 akhirnya berlabuh dengan aman di Muara Paguyaman, Kabupaten Boalemo, yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pelabuhan Gorontalo.
Seluruh penumpang dan awak kapal dilaporkan berada dalam kondisi selamat. Tidak ada korban jiwa maupun laporan kerusakan yang mengancam keselamatan selama kapal menghadapi cuaca buruk di perairan Teluk Tomini.
Setelah kapal berhasil bersandar di Muara Paguyaman, para penumpang melanjutkan perjalanan menuju Kota Gorontalo melalui jalur darat. Mereka turun dari kapal sambil membawa barang bawaan masing-masing, kemudian menaiki kendaraan yang telah disiapkan untuk meneruskan perjalanan menuju tujuan akhir.
Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran di Teluk Tomini sangat bergantung pada kondisi cuaca. Perubahan gelombang dan kecepatan angin yang dapat terjadi dalam waktu singkat menuntut nahkoda mengambil keputusan cepat dan tepat demi menghindari potensi kecelakaan di laut.
Meski harus menempuh perjalanan tambahan melalui jalur darat, para penumpang memilih menerima keadaan dengan lapang dada. Bagi mereka, keterlambatan perjalanan jauh lebih baik dibanding mempertaruhkan keselamatan di tengah cuaca yang tidak menentu.
Insiden ini juga menjadi pengingat penting bahwa keselamatan pelayaran harus selalu menjadi prioritas utama. Jadwal keberangkatan maupun kedatangan dapat berubah karena faktor alam, tetapi memastikan seluruh penumpang tiba dengan selamat merupakan keberhasilan terbesar dalam setiap pelayaran.
Pewarta: Ramla Ismail


