TransSulteng-Tojo una una– Gelombang kekecewaan mendalam tengah dirasakan oleh warga Desa Bailo Baru, Kabupaten Tojo Una-Una, terhadap pemerintah daerah dan tim penyelamat.
Kekecewaan ini dipicu oleh minimnya fasilitas dan anggaran negara dalam operasi pencarian terhadap seorang pemuda setempat bernama Rahmad Rizki Kasala, yang dilaporkan hilang dan diduga terjatuh ke laut saat memancing di rompong pada Senin malam, 1 Juni 2026.
Hingga memasuki hari keempat (Kamis, 4 Juni 2026), korban belum juga ditemukan.
Sementara perahu milik korban sebelumnya telah ditemukan oleh nelayan setempat dalam kondisi kosong tanpa awak di tengah laut.
Warga sangat menyayangkan sikap Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) setempat yang dinilai tidak maksimal dan justru membebankan biaya operasional bensin kepada pihak keluarga dan swadaya masyarakat yang sedang berduka.
Perwakilan keluarga korban yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan rasa herannya terhadap prosedur operasional tim penyelamat yang dinilai sangat mencekik warga kecil.
"Kami sangat kecewa dengan respons pemerintah dan tim di lapangan. Masa untuk menyelamatkan nyawa manusia, keluarga yang harus menanggung semuanya? Mereka (Basarnas) baru mau jalankan speedboat kalau kami menyediakan bensin 9 jeriken atau sekitar 300 liter. Kami ini warga kecil, dari mana ada uang mendadak sebanyak itu dalam kondisi panik seperti ini?" ujarnya dengan nada bergetar menahan tangis.
Kekecewaan senada juga dilontarkan oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Bailo Baru yang ikut mengoordinasikan pencarian swadaya bersama para nelayan setempat. Ia menyebut bahwa negara terkesan absen dalam musibah kemanusiaan ini.
"Hari pertama Basarnas cuma turun pakai speed satu kali, itu pun bensinnya masyarakat yang tanggung. Hari kedua sampai sekarang, kami warga dan nelayan yang putar otak turun ke laut pakai perahu sendiri, bensinnya ditanggung masing-masing pemilik perahu. Kami mempertanyakan ke mana anggaran darurat bencana dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tojo Una-Una?
Mengapa urusan nyawa warga seperti tidak ada harganya bagi mereka," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Bailo Baru bersama para nelayan masih terus melakukan penyisiran secara mandiri di sekitar lokasi rompong tempat korban biasa memancing.
Warga mendesak pihak manajemen Basarnas Provinsi Sulawesi Tengah untuk segera turun tangan mengintervensi kendala anggaran ini, serta menurunkan bantuan logistik penuh demi keselamatan warga negara yang sedang tertimpa musibah.
Pewarta: Ahmad Tuliabu













